Kamis, 12 Agustus 2021

Sifat Pengelola Jurnal yang Ideal

Yth. Bapak dan Ibu Pengelola Jurnal yang Budiman.

Berikut ini rangkuman pendapat saya dan hasil diskusi dengan teman-teman di sosial media tentang 8 (delapan) Sifat Pengelola Jurnal yang Ideal demi kelestarian jurnal ilmiah:

  1. Keikhlasan sebagai Relawan. Kerja pengelolaan jurnal identik dengan workload yang berat tetapi honornya sedikit. Diperlukan jiwa altruistik demi kemaslahatan bersama. Jika seorang pengelola jurnal prinsipnya Ke-Uang-an Yang Maha Esa saya yakin dia tidak akan betah lama bekerja di jurnal. Hal ini dalam konteks jurnal yang diterbitkan oleh kampus atau Universitas. Lain halnya jika tujuan pembuatan dan pengelolaan jurnal adalah profit oriented karena dikelola oleh Perusahaan swasta seperti Elsevier, Taylor Francis, SAGE, Emerald dan sebagainya.  Publisher-Publisher besar ini  sangat terkenal di dunia publikasi dengan image sebagai publisher yang memiliki jurnal-jurnal berkualitas tinggi tetapi sayangnya paywalled atau closed acess dimana di satu publisher pembaca diharuskan membayar 35 USD hanya untuk membaca satu artikel  yang isinya hanya 10 halaman. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang didapatkan oleh publisher besar ini dan kemampuan mereka menggaji pengelola jurnalnya. hal ini sangat berbeda dengan pengelolaan jurnal di kampus atau universitas.
  2. Fokus dan Tekun. Untuk bisa sukses dalam mencapai prestasi dalam setiap pekerjaan diperlukan focus dan ketekunan. Saya sering mendengar cerita kampus-kampus yang hebat tapi jurnal tidak terurus karena ditinggalkan pengelolaanya sekolah S3 ke luar negeri atau jurnal yang sudah accredited di SINTA tapi turun akreditasinya misalnya dari Sinta 2 terjun bebas ke Sinta 4 karena tidak ada regenerasi atau pengelola jurnal sibuk dengan urusan lain misalnya jabatan dan kesibukan penelitian di kampusnya. Kata Prof Zaki dari jurnal IJIMS yang terindeks Scopus pengelola jurnal itu nggak perlu banyak orang. Cukup 4 atau 5 pengelola yang focus dan tekun InsyaAllah jurnal akan sukses meraih akreditasi jurnal dan terindeks di web indexing jurnal internasional bereputasi.
  3. Mudah dihubungi dan Responsive. Sering kita dengar curhat menyedihkan pengelola jurnal ketika mendapati author yang mengirim satu naskah yang sama ke dua atau tiga jurnal. Hal ini bisa jadi kebiasaan buruk author atau memang belum tahu atau tidak sadar akan kesalahan yang umum terjadi dalam publikasi jamak (double submission) tapi bisa jadi karena pengelola membiarkan article submission yang unassigned di  system OJS  bertumpuk-tumpuk berbulan-bulan. Jika pengelola jurnal tidak bisa dihubungi dan tidak responsive dengan artikel yang masuk sampai berbulan-bulan bisa jadi author menjadi galau dan panik kkemudian kerena deadline kuliah di S2 dan S3 artikel yang sama terpaksa dikirim ke jurnal lain yang lebih responsive. Intinya persoalan komunikasi antara author, editor dan reviewer sangat penting di dunia publikasi jurnal.
  4. Menghindari Conflict of Interest. Satu hal yang umum didapati jurnal-jurnal yang sudah accredited apalagi yang sudah terindeks Scopus dan Web of science terdapat persoalan conflict of interest. Adanya editor dan reviewer jurnal, atasan, teman, saudara yang ingin publish di jurnal kita menjadi gangguan berat dan membuat capek pengelola jurnal. Kenapa ada model double blind peer review? Agar author dan reviewer tidak saling mengenali satu sama lain sehingga nggak ada conflik kepentingan. Kenapa di DOAJ ada aturan yang tidak tertulis bahwa reviewer dan editor di jurnal yang sama hanya diidzinkan menjadi author atau co-author di jurnal yang dikelola maksimal 20 persen? Ya karena menghindari conflict of interest dan ada competitiveness. Andaikan ada editor yang ingin menulis di jurnalnya sendiri editor yang lain harus mencarikan reviewer dari luar kampus dan jika memang dinilai jelek oleh reviewer artikel tersebut reject dan tidak perlu diterbitkan. Saya pernah baca di blog tips yang sangat ekstrim bagi jurnal yang ingin terindeks di Scopus. Pesan es krim :) :D eh ekstrim itu ialah, “Meskipun teman sendiri jika artikelnya jelek jangan di-publish dan sebaliknya jika ada artikel yang masuk itu milik musuh kita jika bagus harus diterbitkan. Ingatlah satu saja artikel jelek publish di jurnal kita akan mempengaruhi team CSAB Scopus”. Sumbernya ini
  5. Pentingnya membangun suasana Humanis. Terutama bagi jurnal yang diterbitkan kampus. Bangunan suasana humanis antara editor, reviewer dan author harus diwujudkan. Fast respons kepada author, E-certificate untuk editor dan reviewer setelah menjalankan tugas perlu disediakan. Jika jurnal sudah ber-APC pengelola jurnal bisa menyediakan merchandise jurnal dan honor ala kadarnya sesuai dengan kontribusi dan keaktifan masing-masing editor dan reviewer.
  6. Sabar menghadapi author dari Negara manapun. Menghadapi author dari dalam dan luar negeri perlu kesabaran terutama jika jurnal kita belum accredited di SINTA. Banyak orang Tanya-tanya dan setelah tahu jurnal kita belum accredited mereka lari padahal free APC. Beda lagi jika sudah di Sinta 2 apalagi Sinta 1 yang terindeks Scopus dan WoS, author garis keras yang telpun siang malam akan berdatangan. Saya pernah memblokir nomor telpun calon penulis dari luar negeri karena sudah sangat annoying. Telpun siang malam tak kenal waktu dan maunya bayar dulu APC-nya tanpa dicek kualitas artikelnya dan minta Fast Publication. Hih!!! Sungguh menyebalkan.
  7. Punya networking yang luas. Untuk bisa menjaring banyak naskah dari authors, melibatkan editor dan reviewer dalam dan luar negeri  jaringan pengaulan social yang luas perlu dibangun. Jika tidak ada pandemic covid 19 kita bisa ikut conference sambil mencari kenalan sebanyak-banyaknya demi kemajuan jurnal kita. Juga pemanfaatan social media sangat effective untuk promosi call for papers dan call for editors and reviewers.
  8. Nggak terlalu memikirkan uang. Uang itu penting tapi bukan segalanya. Inti kerja jurnal adalah menolong orang lain dan dengan sering menolong orang lain hakekatnya kita menolong diri sendiri naik derajat dan pahalanya di sisi Allah SWT. Kata seorang Ulama, “Sebesar apapun pertolongan kita pada orang lain pada hakekatnya yang justru mendapatkan kemanfaatan terbesar adalah diri kita sendiri dengan tingginya derajat dan besarnya pahala di sisi Allah SWT”. 

Demikian saja delapan tips pengelola jurnal yang ideal semoga Allah SWT memberi kita taufik dan Hidayat untuk bisa mewujudkannya dalam kehidupan kita. Aamiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar